Sabtu, 06 Februari 2010

KOMPLIKASI DAN PENYULIT KEHAMILAN TRISEMESTER I DAN II

1. ANEMIA DALAM KEHAMILAN
• Definisi
Anemia dalam kehamilan ialah kondisi Ibu dengan kadar hemoglobin di bawah 11 gr % pada trisemester 1 dan 3 atau kadar < 10,5 gr % pada trisemester 2.
• Pengaruh Anemia Dalam Kehamilan
Anemia dalam kehamilan memberi pengaruh kurang baik bagi Ibu, baik dalam kehamilan, persalinan maupun dalam nifas dan masa selanjutnya.
Penyulit yang dapat timbul adalah seperti :
 Abortus
 Partus Prematurus
 Partus lama karena Inersia Uteri
 Perdarahan Postpartum karena Atonia Uteri
 Syok
 Infeksi, baik Intrapartum maupun Postpartum
 Anemia yang sangat berat dengan Hb < 4 gr % dapat menyebabkan Dekompensasi Kordis, seperti yang di laporkan oleh Lie – Injo Luan Eng dan kawan – kawan.
• Pengaruh Anemia Pada Kehamilan Bagi Hasil Konsepsi, Seperti :
 Kematian Mudigah
 Kematian Perinatal
 Prematuritas
 Dapat terjadi Cacat bawaan
 Cadangan besi kurang
Anemia dalam kehamilan merupakan sebab potensial Morbiditas serta Mortalitas Ibu dan anak
• Pembagian Anemia Dalam Kehamilan
Anemia dalam kehamilan dapat di kelompokkan menjadi 4 yaitu :
a. Anemia defisiensi besi
 Etiologi :
Kurang masuknya unsur besi dengan makanan, karena gangguan Resorpsi, gangguan penggunaan, atau karena terlampau besi keluar dari badan, misalnya pada perdarahan.
 Dignosis
Diagnosis anemia defisiensi besi berat tidak sulit karena ditandai dengan ciri-ciri yang khas bagi defisiensi besi, yakni mikrositosis & hipokromasia.
Sifat lain yang khas bagi defisiensi besi ialah:
a. leadar besi serum rendah
b. daya ikat besi serum tinggi
c. protoporfirin eritrosit tinggi
d. tidak ditemukan hemosiderin (stainable iron) dalam sum-sum tulang.
Terapi
Pengobatan dapat dimulai dengan prefarat besi per 05. Biasanya diberikan garam besi sebanyak 600-1000 mg sehari, seperti sulfas-ferrosus atau glukonas frrosus. Peranan vitamin C dalam pengobatan dengan besi masih diragukan oleh beberapa penyelidik. Mungkin vitamiin C mempunyai khasiat untuk mengubah ion ferri menjadi ion ferro yang lebih mudah diserap oleh selaput usus.
Terapi parenteral baru diprlukan apabila penderita tidak tahan akan obat besi per 05, ada gangguan penyerapan. Penyakit saluran pencernaan, atau apabila kehamilannya sudah tua. Besi parenteral diberikan dalam but ferri.secara intamuskulus dapat disuntikkan desktran besi (imferon) atau sorbitol besi (jectofer), hasilnya lebih cepat dicapai, hanya penderita merasa nyeri ditempat suntikkan.
Juga secara i.v perlahan-lahan besi dapat diberikan, seperti ferrum desidum salekartum (ferrigen, ferrivenin,proferrin,vitis), sodium ferrum (ferronascin),infus dalam dosis total antara 1000-2000 mg unsur besi sekaligus, dengan hasil yang sangat memuaskan. Tranfusi darah sebagai pengobatan anemia dalam kehamilan sangat jarang diberikan, walaupun Hb-nya kurang dari 6gr% apabila tidak terjadi pendarahan.
Pencegahan
Didaerah-daerah dengan frekuensi kehamilan yang tinggi sebaiknya setiap wanita hamil diberi sulfas ferrosus atau glukonas forrosus, cukup 1 tablet sehari, dan nasehatkan pula untuk makan lebih banyak protein & sayur-sayuran yang mengandung banyak mineral serta vitamin.
b.Anemia Megaloblastik
Etiologi
Banyak disebabkan karena defisiensi asam folik (pteroylglutamic acid), jarang sekali kru defisiensi vitamin B12.
Terapi
Dalam pengobatan anemia megabolistik dalam kehamilan sebaiknya bersama-sama dengan asam folik diberikan pula besi. Tablet asam folik diberikan dalam dosis 15-30 mg sehari. Jika perlu,asam folik diberikan dengan suntikan dalam dosis yang sama. Apabila anemia megaloblastik disebabkan oleh defisiensi vitamin B12,maka penderita harus diobati vitamin B12 dengan dosis 100-1000 mikrogram sehari, baik 05 maupun parenteral.
Pencegahan
Pada umumnya asam folik tidak diberikan secara rutin, kecuali didaerah-daerah dengan frekuensi anemia megaloblastik yang tinggi. Apabila pengobatan anemia dengan besi saja tidak berhasil, maka besi harus ditambah dengan asam folik.
c.Anemia Hipoplastik
Anemia pada wanita hamil yang disebabkan sum-sum tulang kurang mampu membuat sel-sel darah baru, dinamakan anemia hipoplastik dalam kehamilan. Etiologi anemia hipoplastik karna kehamilan hingga karena belum diketahui dengan pasti kecuali disebabkan oleh sepsis, sinar roentgen, racun, atau obat-obat.
Karena obat penambah darah tidak memberi hasil, maka satu-satunya cara untuk memperbaiki keadaan pendirian ialah tranfusi darah, yang sering perlu diulang sampai berapa kali. Biasanya anemia hipoplastik karena kehamilan, apabila wanita dengan selamat mencapai nifas, akan sembuh dengan sendirinya. Dalam kehamilan-kehamilan berikutnya biasanya wanita menderita anemia hipoplastik lagi.


d.Anemia Hemolitik
Etiologi:
Penghancuran sel darah merah berlangsung lebih cepat dari pembuatannya, wanita dengan anemia hemolitik sukar menjadi hamil, apabila ia hamil, maka anemianya biasanya menjadi lebih berat.
Secara umum anemia hemolitik dapat dibagi dalam 2 golongan besar, yaitu:
1. Golongan yang disebabkan oleh faktor intrakorpuskuler, seperti pada sferositosis, eliptositosis, anemia hemolitik herediter, thallesemia, anemia sel sabit, hemoglobinopatia C,D,G,H,I,dan paraxysmal nocturnal haemoglobin uria.
2. Golongan yang disebabkan oleh faktor ekstrakorpuskuler, neoarsphenamin, timah, sulfonamid, kinin, paraguin, pimaguin, nitrofurantoin (furadantin), racun ular. Pada defisiensi G – 6 – PD, antogonismus rhesus atau ABO, leukemia, penyakit Hodglein, limfosarkoma, penyakit hati.
 Gejala yang sering di jumpai ialah gejala – gejala proses hemolitik, seperti anemia, hemoglobinemia, hemoglobinuria, hiperbiliribinemia, hiperurobilinuria, dan sterkobilia lebih banyak dalam feses.
Disamping itu terdapat pula sebagai tanda regenerasi darah seperti retikulositisis dan normolastemia, serta hiperplasia erithropoeis dalam sum – sum tulang.
 Pengobatan
Pengobatan anemia hemolitik dalam kehamilan tegantung pada jenis dan beratnya obat – obat penambah darah tidak memberi hasil. Tranfusi darah, kadang – kadang diulang beberapa kali, diperlukan pada anemia berat untuk meringankan penderitaan Ibu dan mengurangi hipoksia janin.
Hiperemisis Gravidarum
Komplikasi kehamilan yang paling sering disertai dengan gangguan psikis ialah hiperemisis gravidarum.
Selain kelainan organik (Hiperasiditas lambung, kadar chorion gonadotropin serum tinggi), faktor – faktor psikis sering pila menjadi dasar penyakit ini. Misalnya ketidakmatangan psikoseksual, pertentangan dengan suami atau dengan Ibu mertua, kesulitan Sosio – Ekonomi / perumahan, ketakutan akan persalinan dan lain – lain.
Pendekatan Psikologik sangat penting dalam pengobatan hiperemisis gravidarum, bantuan moral dengan meyakinkan wanita bahwa gejala – gejala itu wajar dalam kehamilan muda dan akan hilang dengan sendirinya menjelang kehamilan 4 bulan sangat penting. Kasus – kasus berat perlu di rawat dan ditempatkan di dalam kamar isolasi.

ABORTUS
1. Pengertian
Abortus adalah kehamilan sebelum anak dapat hidup di dunia luar.
2. Abortus dapat di bagi sebagai berikut :
• A. Spontan
Adalah keguguran atau terjadi dengan sendirinya
- Kejadian : 10 – 20 % dari semua kehamilan
- Sebab – sebab : Pada hamil muda abortus selalu di dahului oleh kematian janin kematian janin dapat disebabkan oleh :
1. Kelainan Telur
Kelainan telur menyebabkan kelainan pertumbuhan yang sedemikian rupa hingga janin tidak mungkin hidup terus.
Misalnya : Karena faktor endogen seperti kelainan kromosom (Trisomi, Polyplordi).
2. Penyakit Ibu
Beberapa penyakit Ibu dapat menimbulkan abortus, misalnya :
• Infeksi akut yang berat : pneumoni, thypus, dan lain –lain dapat menyebabkan abortus atau partus praematurus.
• Kelainan endotrin : Kekurangan progesteron (disfungsi kelenjar gondok)
• Trauma : Laparatomi (kecelakaan)
• Kelainan alat kandungan : 1. Hypoplasia Uteri
2. Tumor Uterus
3. Teruix yang pendek
4. Retroflexio Uteri Incarderata
5. Kelainan Endometrium
Patologi
Kelainan yang terpenting ialah perdarahan dalam decrdua dan nexrose sekitarnya. Karena perdarahan ini ovum terlepas sebagian atau seluruhnya dan berfungsi sebagai benda asing yang menimbulkan kontraksi. Kontraksi ini akhirnya mengeluarkan isi rahim sebelum minggu ke 10 telur biasanya dikeluarkan dengan lengkap. Kadang – kadang telur yang lahir dengan abortus mempunyai bentuk yang istemewa,Misalnya :
 Telur Kosong berbentuk kantong amniopn berisi air tuban tanpa janin
 Mola Crenta adalah telur yang dibungkus oleh darah kental. Kalau darah beku ini sudah seperti daging disebut Mola Camosa.
 Mola Tuberosa adalah telur yang memperlihatkan benjolan – benjolan yang di sebabkan haematom antara amron dan chorion.
 Nasib janin yang mati bermacam – macam :
1. Kalau masih sangat kecil dapat diaborsi & Hilang
2. Kalau janin sudah agak besar, maka cairan amnion diaborsi hingga janin tertekan yang sering disebut Foetus Compressus
3. Kalau janin sudah menjadi kering mengalami mummilikasi hingga menyerupai parkamen, sering terjadi pada kehamilan kembar.
 A. Provacatus
Adalah pengguguran kehamilan karena di sengaja / di gugurkan
Kejadiannya : 80 % dari semua kehamilan
+ Provocotus dapat terbagi menjadi 2 macam yaitu :
• Provocotus Artifradiis / A. Theropeuticus
Ialah penggunaan kehamilan, biasanya dengan alat – alat dengan alasan bahwa kehamilannya membahayakan dan membawa maut bagi Ibu.
Ex : Ibu ynag berpenyakit berat (Jantung, Hipertensi, DM, Asma, DLL)
• Provacotus criminalis
Ialah penggunaan kehamilan tanpa alasan medis yang sah dan di larang oleh hukum.
• Provocotus pada hamil muda ( di bawah 12 minggu) dapat dilakukan dengan pemberian prostaglandin atau currettage dengan penyedotan (Vakum / sendok curet. Pada hamil yang tua (diatas 12 minggu) dilakukan hysterotomi, juga dapat di suntikkan garam hypertonis (20%) / prostaglandin Intra amnial.
KUNIX ABORTUS
1. Abortus Imminens (keguguran mengancam)
Abortus ini baru mengancam dan masih ada harapan untuk mempertahankannya jika seseorang wanita yang hamil muda menegeluarkan darah sedikit pervaginam maka ia diduga menderita A. Imminens.
Perdarahan yang sedikit pada hamil muda mungkin di sebabkan oleh hal – hal lain dari abortus, misalnya :
• Placental sign (gejala Placenta)
Ialah perdarahan dari pembuluh – pembuluh darah sekitar placenta
• Erosio potionus juga mudah berdarah pada kehamilan
• Polyp
Secara ikhtisar abortus imminens kita diagnosa kalau pada kehamilan muda terdapat :
1. Perdarahan sedikit
2. Nyeri memirin karena kontraksi tidak ada / sedikit sekali
3. Pada pemeriksaan dalam belum ada pembukaan
4. Tidak di ketemukan kelainan pada Ceruix
Pada abortus imminens masih ada harapan bahwa kehamilan masih berlangsung terus pengobatannya :
+ Istirahat rebah
+ Diberi sedativa Ex : luminal, codern, morphin
+ Progesteron 10 mg sehari untuk terapi substitusi dan untuk mengurangi kerenta non otot – otot rahim.
2. A. Inapiens (keguguran berlangsung)
A. Ini sudah berlangsung dan tidak dapat dicegah lagi
Tanda – tandanya ialah :
1. Perdarahan banyak, kadang – kadang keluar gumpalan darah
2. Nyeri karena kontraksi rahim kuat
3. Akibat kontraksi rahim terjadi pembukaan
Abortus incipiens biasanya berakhir dengan abortus
Pengobatannya :
• Untuk mempercepat pengosongan rahim oxytocin 2½ satuan tiap – tiap jam sebanyak 6 kali
• Untuk M(-) nyeri karena his boleh di beri sedativa.
• Orxa tidak berhasil, dapat dilakukan curettage cual pembukaan cukup besar
3. A. Incompletus (keguguran tidak lengkap)
Sebagian dari buah kehamilan telah di lahirkan tapi sebagian masih tertinggal di dalam rahim.
Ex : Yang terpenting ialah
- Setelah terjadi abortus dengan pengeluaran jaringan, perdarahan berlangsung terus
- Sering serviks tetap terbuka karena masih ada ada benda di dalam rahim yang dianggap corpus allineum, maka uterus akan berusaha mengeluarkannya dengan mengadakan kontraksi
Tetapi kalau keadaan ini di biarkan lama, serviks akan menutup kembali
Pengobatannya :
Harus segera dibersihkan dengan curettage / secara digital selama masih ada sisa – sisa placenta akan terus terjadi perdarahan.
4. A. Seluruh buah kahamilan telah di lahirkan dengan lengkap.
Pada abortus completus perdarahan segera berkurang isi rahim di keluarkan dan selambat – lambatnya dalam 10 hari perdarahan berhenti sama sekali , karena dalam masa ini, luka rahim telah sembuh dan epitelisasi telah selesai serta serviks juga segera menutup kembali.
Pengobatannya :
Sebelum melakukan curettage penderita di beri antibiotika dulu baru curettage dikerjakan setelah suhu tenang dalam 3 hari.
5. A. Missed abortion (keguguran tertunda)
Ialah keadaan dimana janin telah mati sebelum minggu ke 22, tetapi tertahan di dalam rahim selama 2 bulan / lebih setelah janin mati.
Gejala – gejala :
• Rahim tidak membesar, malahn mengecil karena absorpsi air tuban dan macerasi janin
• Buah dada mengecil kembali
• Gejala – gejala lain yang terpenting tak ada, hanya ammenorhoe berlangsung terus
Pengobatannya :
Beni pitocin misalnya 10 satuan dalam 500 cc glucose
6. A. Habitualis (keguguran berulang – ulang)
Ialah abortus yang telah berulang dan berturut – turut terjadi sekurang – kurangnya 3x berturut – turut
Sebab – sebab abortus habitualis dapat dibagi dalam 2 golongan :
1. Sel benih yang kurang baik : Pada saat ini kita belum tahu bagaimana mengobatinya
2. Lingkungan yang tidak : hal – hal yang dapat mempengaruhi ialah :
• Dysfungsi Glandula Thyreordea : Hypofungsi kelenjar ini dapat diobati dengan pemberian Thyreoid hormon
• Kekurangan hormon – hormon corpus luteum (placenta K (-) hormon diatasi dengan terapi substitusi
Misalnya : sering diberi progesteron
• Defisisnsi makanan seperti asam folin
• Kelainan anatomis dari uterus yang kadang – kadang dapat di koreksi secara operatif
• Serviks yang Incomplenent : serviks yang incomplenent sudah membuka pada bulan ke 4 keatas : akibatnya ketuban mudah pecah dan terjadi abortus dapat dicegah dengan operasi shirodkar / Mac Donald
• Hyportensia essentialis
• Golongan darah suami istri yang tidak cocok
• Toxoplasmose.
Kehamilan Eletopik
Definisi :
Kehamilan Eletopik ialah kehamilan di tempat yang luar biasa
Kehamilan eletopik dapat terjadi di luar rahim misalnya dalam tuba, ovarium atau rongga perut, tetapi dapat juga terjadi didalam rahim di tempat yang luar biasa misalnya dalam serviks, pars intersititialis tuba atau dalam tanduk rudimenter rahim.
1. Kehamilan tuba
Sebab – sebab kahamilan tuba
a. Hal – hal yang mempersulit perjalanan telur ke dalam cavum uteri
- Salpingitis chronica
- Kelainan congenitaltuba
- Tumor – tumor yang menekan pada tuba
- Perlekatan tuba dengan alat – alat sekitarnya
- Migratio external
b. Tuba yang panjang seperti pada hypoplasia uteri
c. Hal – hal yang memudahkan Nidasi
Menurut tempatnya Nidasi maka terjadilah :
1. Kehamilan ampuler
2. Kehamilan Isthmik
3. Kehamilan Interstisiil
Perkembangan Kehamilan Tuba
Kehamilan tuba biasanya tidak dapat mencapai cukup bulan, biasanya berakhir pada minggu ke 6 – minggu ke 12, yang paling sering antaara minggu ke 6 minggu ke 8
Berakhirnya kehamilan tuba ada 2 cara
1. Abortus Tuber
2. Ruptura Tubae
1. Abortus Tuber
Pada abortus tuber, telur karena bertambah besar menembus endosalpinx (selaput lendir tuba) masuk kedalam liang tuba dan dikeluarkan ke arah Infundibulum. Hal ini terutama terjadi kalau telur berimplantasi di daerah ampula tuba.
Abortus tuber kira – kira terjadi antara minggu ke 6 – 12.
2. Ruptura Tubae
Pada ruptura tubae telur menembus lapisan otot tuba ke arah carum peritonei. Ini terjadi kalau implantasi telur dalam isthmus tuba.
Ruptur pada isthmus tuba terjadi sebelum minggu ke 12 karena dinding tuba disini tipis, tapi ruptur pada pars interstitialis terjadi lambat kadang – kadang baru pada bulan ke 4 karena lapisan otot tebal.
Ruptur bisa terjadi spontan atau violent misal karena Tocher, defekasi atau coitus.
Ruptur biasanya terjadi ke dalam Lig Latum kalau iplantasinya pada dinding bawah tuba. Pada ruptur tuba seluruh telur dapat melalui robekan dan masuk kedalam cavum peritonei dimana telur itu mati, Tetapi kalau hanya janin yang melalui robekan dan plsenta tetap melekat pada dasarnya, maka kehamilan dapat berlangsung terus sebagai kehamilan abdominal.
 Gejala – gejala :
+ Kehamilan eletopik biasanya baru memberikan gejala – gejala yang jelas dan lekas kalau sudah terganggu gejala – gejala yang penting Ialah :
• Nyeri perut
• Amenorrhoe
• Perdarahan pervaginam
• Shock karena hyporolaemia
• Nyeri bahu dan leher
• Nyeri pada palpasi
• Nyeri pada toucher
• Pembesaran uterus
• Tumor dalam rongga panggul
• Gangguan kencing
• Perubahan darah
 Diagnosa :
Kehamilan eletopik yang terganggu harus di bedakan dari :
1. Radang dari alat – alat dalam panggul, terutama salpingitis
2. Abortus biasa
3. Perdarahan karena pecahnya kista follikel atau corpus luteum
 Untuk membedakan dengan Salpingitis dapat di kemukakan :
1. Pada Salpingitis pernah ada serangan nyeri perut sebelumnya
2. Nyeri bilateral
3. Demam umumnya lebih tinggi
4. Galli mainini yang positip menunjuk kearah kehamilan ektopik, yang negatif tidak ada artinya.
Pada abortus biasa perdarahan lebih banyak, sering ada pembukaan adan uterus biasanya besar dan lunak.
Perdarahan karena pecahnya kista follikel atau corpus luteum tak dapat di bedakan tapi bukan merupakan persoalan penting karena harus dioperasi juga.
 Untuk membantu diagnostik dapat dilakukan :
1. Reaksi Galli mainini : kalau positip maka ada kehamilan, reaksi yang negatif tidak berarti
2. Douglas Punksi : Jarum besar, yang dihubungkan dengan spuit ditusukkan kedalam cavum douglasi menonjol kedalam fornix posterion
Kalau terhisap darah ada 2 kemungkinan :
a. Adanya darah dalam cavum Douglasi jadi adanya perdarahan dalam rongga perut
b. Tertusuknya vena dan terhisapnya darah vena dari daerah tersebut.
Maka untuk mengtakan bahwa douglas punksi positip, artinya adanya perdarahan dalam rongga perut, darah yang dihisap mempunyai sifat sebagai berikut :
• Berwarna merah tua
• Tidak membeku setelah dihisap
• Biasanya didalamnya terdapat gumpalan – gumpalan darah yang kecil.
Belakangan ini di pergunakan laparaskopi dan sonografi untuk membantu diagnosa.
Pengobatan :
Segera dilakukan operasi ialah salpingektomi dengan pemberian tranfusi darah.
Operasi tidak usah ditangguhkan sampai shock teratasi, asal tranfusi sudah jalan, operasi dapat dimulai dengan segera.
2. Kehamilan Interstisiil
Implantasi telur terjadi dalam pars interstitialis tubae. Karena lapisan mymetrium disini lebih tebal maka ruptur terjadi lebih lambat kira – kira pada bulan ke 3 atau ke 4.
Kalau terjadi ruptur maka perdarahan hebat karena tempat ini banyak pembuluh darahnya sehingga dalam waktu yang singkat dapat menyebabkan kematian.
Terapi : Hysterektomi.
3. Kehamilan Abdominal
Menurut perpustakaan kehamilan abdominal jarang terjadi kira – kira 1 di antara 1.500 kehamilan. Kami ada kesan bahwa frekwensi di indonesia lebih tinggi.
Kehamilan abdominal ada 2 macam :
a. Kehamilan abdominal primer, dimana telur dari awal mengadakan implantasi dalam rongga perut.
b. Kehamilan abdominal Sekunder, yang asalnya kehamilan tuba dan setelah ruptur baru menjadi kehamilan abdominal.
Kebanyakan kehamilan abdominal adalah kehamilan abdominal sekunder, maka biasanya biasanya placenta terdapat pada daerah tuba, permukaan belakang rahim dan ligamentum latum.
Walaupun ada kalanya kehamilan abdominal mencap[ai umur cukup bulan, hal ini jarang terjadi, yang lazim ialah bahwa janin mati sebelum tercapai maturitas (bulan ke 5 atay ke 6) karena pengambilan makanan kurang sempurna.
Nasib janin yang mati intra – abdominal sebagai berikut :
 Dapat terjadi pernanahan sehingga kantong kehamilan menjadi absces yang dapat pecah melalui dinding perut atau ke dalam usus atau kandung kencing. Dengan nanah keluar bagian – bagian janin seperti tulang – tulang, potongan – potongan kulit, rambut dan lain – lain.
 Pengapuran (kalsifikasi) : anak yang mati mengapur, menjadi keras karena endapan – endapan garam kapur hingga berubah menjadi anak batu (lithopaedion).
 Perlemakan : Janin berubah menjadi zat kuning seperti minyak kental (adipocere).
Kalau kehamilan sampai terjadi a'terme, maka timbul his, artinya pasien merasa nyeri dengan teratur seperti pada persalinan biasa.
Tetapi kalau kita periksa dengan teliti, tumor yang mengandung anak tidak mengeras.
Pada pemeriksaan dalam ternyata bahwa pembukaan tidak menjadi besar paling – paling sebesar 1 – 2 jari dan cerviks tidak merata, kalau kita masukkan jari ke dalam cavum uteri maka teraba uterus yang kosong.
Kalau keadaan ini tidak lekas di tolong dengan laparotomi maka anak akhirnya mati.
Gejala – gejala
Kehamilan abdominal biasanya baru didiagnosa kalau kehamilan sudah agak lanjut :
 Segala tanda – tanda kehamilan ada tapi pada kehamilan abdominal biasanya pasien lebih menderita, karena perangsangan peritoneum, misalnya sering mual, muntah, gembung perur, obstipasi atau diarrhoe dan nyeri perut sering di kemukakan.
 Pada kehamilan abdominal sekunder mungk9in pasien pernah mengalami sakit perut yang hebat disertai pusing atau pingsan ialah waktu terjadinya ruptura tubae.
 Tumor yang mengandung anak tidak pernah mengeras (tidak ada kontraksi Braxton Hicks).
 Pergerakkan anak dirasakan nyeri oleh Ibu
 Bunyi jantung anak lebih jelas terdengar
 Bagian anak lebih mudah teraba karena hanya terpisah oleh dinding perut
 Di samping tumor yang mengandung anak kadang – kadang dapat di raba tumor tang lain ialah rahim yang membesar.
 Pada Ro foto perut biasanya nampak kerangka anak yang tinggi letaknya dan berada dalam letak paksa
 Pada foto lateral nampak bagian – bagian janin menutupi vertebrae ibu
 Adanya souffle vaskuler medial dari spina iliaca. Soffle ini diduga berasal dari arteria ovarica
 Kalau sudah ada his dapat terjadi pembukaan ± sebesar 1 jari dan tidak menjadi lebih besar ; kalau kita masukkan jari kita ke dalam cavum uteri maka ternyata uterus kosong.
Diagnosa
Untuk menentukan diagnosa dilakukan percobaan sebagai berikut :
1. Pitocin test : 2 satuan pitocin di suntikkan subcutan dan tumor yang mengandung anak dipalpasi dengan teliti. Kalau tumor tersebut mengeras maka kehamilan itu intrauterin.
2. Kalau pembukaan tidak ada maka dapat di lakukan sondage untuk mengetahui apakah uterus kosong dan selanjutnya di buat Ro foto dengan sonde di dalam rahim.
3. Dibuat hyterografi dengan memasukkan lipiodol ke dalam cavum uteri.
Terapi
Kalau diagnosa sudah di tentukan maka kehamilan abdominal harus di operasi secepat mungkin, mengingat bahaya – bahayanya seperti perdarahan, ileus ; lagi pula seperti telah di terangkan, prognosa untuk anak kurang baik jadi kurang baik jadi kurang manfaatnya untuk menunda operasi untuk kepentingan anak kecuali pada keadaan – keadaan yang tertentu.
Yang dituju pada operasi ialah melahirkan anak saja, sedangkan placenta biasanya ditinggalkan.
Melepaskan placenta dari dasarnya pada kehamilan abdominal menimbulkan perdarahan yang hebat, karena placenta melekat pada dinding yang tidak kontraktil.
Placenta yang ditinggalkan lambat – laun akan diresorpsi.
Mengingat kemungkinan perdarahan yang hebat, persediaan darah harus cukup.
4. Kehamilan Ovarial
Jarang terjadi dan biasanya berakhir dengan ruptur pada hamil muda. Untuk mendiagnosa kehamilan ovarial harus di penuhi kriteria dari Spiegelberg.
5. Kehamilan Cervical
Kehamilan cervical jarang sekali terjadi.
Nidasi terjadi dalam selaput lendir cerviks
Dengan tumbuhnya telur, cerviks menggembung.
Kehamilan cerviks biasanya berakhir pada kehamilan muda, karena menimbulkan perdarahan hebat yang memaksa pengguguran.
Placenta sukar di lepaskan dan pelepasan placenta menimbulkan perdarahan hebat hingga cerviks perlu ditampon atau kalau ini tidak menolong dilakukan hysterektomi.
Mola Hydatidosa
Mola Hydatidosa
Adalah tumor yang jinak (benigna) dari chorion
Kejadian :
Mola Hydatidosa adalah penyakit wanita dalam masa reproduksi tetapi kalau terjadi kehamilan pada wanita yang berumur lebih dari 45 Tahun, kehamilan mola 10 x lebih besar di bandingkan dengan gravidae antara 20 – 40 tahun.
Kejadian dirumah sakit besar di indonesia kira – kira diantara 80 persalinan, dinegara lain misalnya :
USA : 1 : 2000 kehamilan
Hongkong : 1 : 530 kehamilan
Taiwan : 1 : 125 kehamilan
Telah diterangkan bahwa kejadian di pengaruhi oleh umur dan ada kemungkinan juga oleh status sosial ekonomi.
Patologi :
Sebagian dari air berubah menjadi gelembung berisi cairan jernih. Biasanya tidak ada janin, hanya pada mola partialis kadang – kadang ada janin
Gelembung itu sebesar butir kacang hijau sampai sebesar buah anggur. Gelembung ini dapat mengisi seluruh cavum uteri.
Di bawah mikroskop nampak degenerasi hydropik dari stoma jonjot, tidak adanya pembuluh darah dari proliforasi trofoblast.
Pada pemeriksaan thromosom didapatkan poliplordi dan hampir pada semua kasus mola susunan sex thromatin adalah wanita.
Pada mola hydatidosa, ovaria dapat mengandung krista lutein kadang – kadang hanya pada satu ovarium kadang – kadang pada kedua – duanya.
Krista ini berdinding tipis dan berisikan cairan kekuning – kuningan dapat mencapai ukuran sebesar tinju atau kepala bayi. Krista lutein terjadi karena perangsangan ovarium oleh kadar gonadotropin charion yang tinggi.
Krista ini kadang – kadang hilang sendiri setelah mola di lahirkan
Gejala – gejala :
Pada pasien dengan amnerorhoe terdapat :
1. Perdarahan kadang – kadang sedikit, kadang – kadang banyak karena perdarahan ini pasien biasanya anaemis
2. Rahim lebih besar dari pada sesuai dengan tuanya kehamilan
3. Hypremisis lebih sering terjadi, lebih keras dan lebih lama
4. Mungkin timbul preeklampsi atau eklampsi sebelum minggu terjadinya preeklampsi atau eklampsi sebelum minggu ke 24 menunjuk ke arah mola hydatidosa
5. Tidak ada tanda – tanda adanya janin ; tidak ada Ballotement tidak ada bunyi jantung anak dan tidak nampak rangka janin pada Rontgen foto.
Pada pola partialis, keadaan yang jarang terjadi dapat di ketemukan janin.
6. Kadar gonadotropin chorion tinggi dalam darah dan air kencing.
Diagnosa
Diagnosa baru pasti kalau kita melihat lahirnya gelembung mola. Kalau uterus lebih besar daripada sesuai dengan tuanya kehamilan maka kemungkinana yang harus dipertimbangkan :
 Haid terakhir keliru
 Kehamilan dengan dyada uteri
 Hidramnion
 Gemeli
 Mola hidatidosa
Untuk membuat diagnosa sering dilakukan pemeriksaan sebagai berikut :
1. Ro foto : Kalau ada rangka janin maka kemungkinan terbesar bahwa kehamilan biasa walaupun pada mola partialis kadang – kadang terdapat janin tidak terlihatnya janin tidak menentukan
2. Reaksi biologis misalnya Galli Mainini pada mola hydatidosa kadar gonadotropin chorion dalam dcarah dan air kencing sangat tinggi maka reaksi Galli mainini di lakukan kuantitatif. Kadar gonadotropin yang di peroleh selalu harus di bandingkan dengan kadar gonadotropin yang di peroleh selalu harus di bandingkan dengan kadar gonadotropin pada kehamilan biasa dengan umur yang sama.
Pada kehamilan muda kadar gonadotropin naik dan mencapai puncaknya ± pada hari ke 100 sesudach masa kadar tersebut turun. Kadar yang tinggi sesudah hari ke 100 dari kehamilan lebih berarti daripada kadar yang tinggi sebelum hari ke 100.
3. Percobaan Sonde : pada mola sonde mudah masuk ke dalam cavum uteri. Pada kehamilan biasa ada tahanan untuk janin
4. Teknik baru yang sedang diperkembangkan adalah
• Arteriografi : yang memperlihatkan pengisian bilateral vena uterina yang dini
• Suntikan zat kontras di dalam uterus : memperlihatkan gambaran sarang tawon
• Ulirasonografi : Gambaran badai salju
Prognosa
Mola hidatidosa merupakan sebab kematian yang penting kematian disebabkan oleh :
1. Perdarahan
2. Perforasi misalnya untuk mola destruens dimana gelembung menembus dinding rahim sampai terjadi perforasi
3. Infeksi, Sepsis
4. Chriocarcinoma setelah mola hidatidosa antara 2 % - 8 % dan makin tinggi pada umur tua.
Pengobatan :
Mengingat adanya bahaya tersebut maka hidatidosa harus di gugurkan setelah diagnosa ditentukan. Tetapi mengingat bahaya chriocarcinoma harus diadakan follw up yang diteliti jadi terapi terdiri 2 bagian :
1. Pengguguran dan curattage dari mola atau dilakukan hysterektomi
2. Follow up untuk mengawasi gejala – gejala choriocarcinoma.
Kalau sudah ada pembukaan sebesar kira – kira I jari di lakukan curettage. Curattage ini selalu harus dengan transfusi darah karena kemungkinan perdarahan yang banyak besar sekali. Sebaiknya dipergunakan hukum curet. Mengingat bahaya perforasi, karena uterus sangat lunak baik di berikan oxytocin sebelum curetage di mulai. Dengan penyuntikan oxytocin, uterus berkontraksi, dindingnya lebih keras dan mengurangi bahaya perforasi kalau belum ada pembukaan maka harus di usahakan dulu supaya cerviks cukup membuka karena curattage mola melalui ostrium yang sempit sangat berbahaya.
Pembukaan cerviks dapat di capai secara kimiawi misalnya dengan pemberian infus oxytocin 10 satuan dalam 500 cc glucose 5 % atau dengan penyuntikan 2½ satuan oxytocin setiap setengah jam sebanyak 6 kali.
Cara yang lain ialah secara mekanis dengan mempergunakan laminaria stift atau kombinasi dari kedua cara.
Supaya pengosongan rahim dapat dilakukan dengan cepat dipergunakan cunam abortus dulu dan ekspresi pada fundus, baru kalau uterus sudah kecil dilakukan curatage.
Kira – kira 10 –14 hari setelah curratage pertama dilakukan curratage ke 2. Pada waktu ini uterus sudah mengecil hingga lebih besar kemungkinan bahwa curratage betul menghasilkan uterus yang bersih. Pada wanita yang sudah berumur 40 tahun atau lebih mungkin baik di lakukan hysterektomi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar